Dan saat aku hanya punya Engkau, saat itulah saat terkayaku.

Posted Oct 11, 14

Aku belajar, bersamaMu, tidak pernah akan ada kata kesepian dan atau kesedihan.

1 note | Posted Oct 11, 14

'Inspiration Share ⛅

Syaqiq bin Ibrahim mengatakan bahwa pintu taufiq tertutup bagi manusia karena 6 perkara;
1. Sibuk dengan nikmat daripada mensyukurinya.
2. Senang mencari ilmu, tetapi tidak mengamalkannya.
3. Cepat melakukan dosa, namun lambat dalam bertaubat.
4. Terperdaya, yaitu bergaul dengan orang-orang shaleh namun tidak mau meniru perbuatan mereka.
5. Terus mengejar dunia ketika sesuatu yang fana ini berlari membelakanginya.
6. Berpaling dari akhirat justru pada saat sesuatu yang abadi ini mendatanginya.

Ibnul Qoyyim menambahkan “Pangkal semua itu adalah tidak adanya perasaan harap dan cemas (terhadap Allah). Penyebabnya adalah keyakinan yang lemah akibat lemahnya penglihatan hati. Lemahnya penglihatan hati itu tidak lain karena kekerdilan dan kerendahan jiwa, serta kebiasaan menukar sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk. Seandainya jiwa seorang hamba benar-benar mulia, niscaya ia tidak akan rela terhadap segala sesuatu yang bernilai rendah.”

Ibnul Qoyyim al Jauziyyah, Fawaidul Fawaid.

1 note | Posted Oct 8, 14

Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhaan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pla Alah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia menjdapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujuk kepada pendapat mereka.

Mu’adz bin Jabal

1 note | Posted Oct 8, 14

Pada beberapa jum’at yang lalu-lalu, keponakan dari mamas mendadak menjadi begitu manja dan lengket tak ingin dipisahkan dengan saya, orang asing yang baru saja masuk dalam memori keluarga besar gadis 4 tahun tersebut. Pada akhir pekan, Di tengah kelelahan dan diantara keinginan bermesra2an dengan mamas, gadis kecil itu muncul menjadi penghalang, tak ingin dipisahkan dan hampir selalu ingin digandeng mesra dan dipeluk manja oleh saya. Saya yang sesungguhnya merasa sangat terganggu tidak bisa berbuat banyak karena meski dengan setengah hati saya tetap melayani segala tingkah polahnya dengan hampir sepenuh jiwa, sempurna tanpa sedikitpun bentakan dan wajah muram. Ya, Melelahkan, jiwa raga, sejujurnya. Tapi ternyata kemudian saya menyadari, bahwa memang akan selalu ada kejutan di setiap momen yang mungkin terasa tak diinginkan tapi ditakdirkan terjadi pada kita, saya menyebutnya sebagai hadiah, hadiah pelajaran. Peristiwa itu terjadi pada hari jumat, tepat setelah adzan ashar berkumandang. Gadis kecil itu dengan penuh semangat minta dimandikan dan diantar mengaji di masjid kampung. Saya yang dengan mata sayu kelelahan karena baru saja mendampingi mamas mengawas pekerjaan -dan ya, gadis kecil itu ikut, lengkap dengan acara gendong menggendong, menyuapi dan melap ingusnya- tetap melayani segala tingkah polahnya dengan wajah yang baginya sangat ceria dan antusias. Tidak cukup sampai disitu, sesampai di masjid dia menggandeng tangan saya erat, sebagai isyarat saya harus menemaninya sampai selesai. Saya takluk meski terfikir beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan hari itu juga. sambil menunggu ustadzah datang, saya membuatkan mainan bintang2an dari sapu lidi yang dipatahkan ujung2nya menjadi 5 bagian dan dibentuk menjadi bintang. Mainan sederhana itu mendadak menarik para gadis2 kecil yang lain dan membuat saya dalam sekejap menjadi pusat perhatian. Mata mereka berbinar2, polos dan indah. Ah, teknologi informasi dan segala gadgetnya memang membuat permainan tradisional menjadi sesuatu yang langka. Sungguh beruntung saya yang masih merasakan bebas main ‘bentengan’ atau ‘gobak sodor’ sambil berteriak ‘montor muluk njaluk duwite’ setiap ada helikopter lewat di atas kami dulu. Kembali ke kegiatan mengaji, tidak lama setelah bermain, akhirnya ustadzah datang. Momen2 setelah ustdzah datang menjadi titik kulminasi hadiah di hari jumat ini. Ustadzah ini berumur mungkin lebih tua 2 tahun di atas saya, tanpa mengurangi rasa hormat, wajahnya bisa dibilang wajah khas kampung yang polos tanpa makeup dan perawatan kulit. Beliau menaiki sepeda jengki, mini, membawa termos berbentuk tabung yang setelah saya selidiki berisi es tape yang dijual seharga 1000 perbungkus. hasil berjualan es tersebut yang akan digunakan beliau untuk tambahan hidup sehari2. Bajunya dapat dipastikan sangat sederhana dengan jilbab yang mungkin sudah tidak tren sejak 10 tahun lalu. sebagai orang yang sama-sama berprofesi sebagai guru, saya seperti ditampar telak di kedua pipi. betapa selama ini secara tidak sengaja saya telah terjebak oleh kemilau profesi yang mungkin hanya nampak indah diluaran tapi banyak kosong di kedalaman. kalau mau hitung2an, saya percaya derajat beliau jauh lebih tinggi sejak yang diajarkan adalah ilmu fardu ain, bahasa Al-Qur’an, yang bahkan setiap hurufnya bernilai pahala. dan bayangkan, jika setiap huruf hijaiyah yang diajarkan kepada santrinya diajarkan lagi kepada generasi setelahnya betapa banyak jariyah yang sudah terkumpul. ditambah lagi kesungguhan hati beliau yang tetap qonaah melayani puluhan anak2 kampung yang karena teknologi informasi dan globalisasi terancam kehilangan jati diri. jasa yang terlaku besar yabg sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan gaji yang didapat. Rupanya Rabbuna ingin mengajarkan arti rendah hati, komitmen dan kesungguhan. kurangi mengeluh. ada banyak jiwa2 malaikat yang bergerak dalam diam, tersembunyi namun berkilauan.

aishasadja 71014

Posted Oct 8, 14

Diantara hiruk pikuk dunia ini Rabbuna, mudahkanlah aku mendekatiMu, lalu mengenalMu.

300914

Posted Sep 30, 14

Ikhlas adalah keintiman yang tidak pernah memiliki batas.

Posted Sep 28, 14

Apa yang datang dari hati akan sampai ke hati.

1 note | Posted Sep 28, 14

Sungguh..apalagi yang lebih indah selain diangkat derajat dan didekatkan di sisi Rabbuna..

1 note | Posted Sep 14, 14

"Don’t think of the trials in your life (‘balaa’) as just a ‘test’ in the human form. Allah is not like a professor who hands you a test, moves away and just watches from afar to see how you’ll do. Allah is our murabee—the One who raises us with more mercy than a mother raises a child. The Prophet (pbuh) tells us that when Allah wills good for someone, he sends them ‘balaa’ (trials or tests). When Allah wills good for us, He purifies us. That is why each person is tested in what they love most. In other words our greatest possible ‘competitor’ in our love for God is what is withheld or must be sacrificed. This is the purification process because it cures the heart of competitors. Why was Prophet Ibrahim (AS) asked to slaughter the most beloved thing to him? Did Allah actually want him to *kill* his son? No. He didn’t kill his son. He killed the attachment. By being willing to sacrifice what he loved most, he had slaughtered any possible competing love. Allah was raising him, purifying him and elevating him. Allah tell us, “By no means shall you attain righteousness unless you give (freely) of that which you love.” (3:92)"

513 notes | Posted Sep 14, 14

Membaca, ngaji, terua belajar. Untuk akhirat. Bismillah. Rabbi yassir walaa tuassir.

Posted Aug 31, 14

KH. Hasan Abdullah Sahal:

1. Kaya itu penting, tapi jangan yang penting kaya; yang penting kaya bisa menghalalkan segala cara. Maka kalau bisa orang itu kaya dan sehat. Sehat itu penting, krn maksiat saja perlu sehat, apalagi ketaatan dan kebaikan perlu kesehatan. Berusahalah jadi orang kuat.

2. Hidup itu nikmat dan indah, maka nikmatilah keindahan hidup. Yang membuat tdk nikmat itu manusianya. Allah sdh menjadikan semuanya indah di dunia ini. “Dia-lah yang membuat indah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (Qs. [32]: 7)

3. Keindahan dan kenikmatan bagi seorang guru yaitu murid; bagi suami adlh istri; bagi orang tua adlh anak; bagi pemimpin adlh rakyat, dst. Ini surga kita: guru pny murid, murid pny guru, itu surga. Bayangkan murid tdk pny guru, atau guru tdk pny murid. Dokter tdk pny pasien, pasien tdk pny dokter.

4. Guru bkn sekedar mengajar ilmu, tapi jg mengajar kehidupan. Kiai yg bener itu ada di pondok 24 jam, 7 hari seminggu, 31 hari sebulan, dst; pesantren tdk boleh jadi sambilan, mendidik dan mengajar tdk boleh hanya sambilan. Harus totalitas; tenaga, pikiran, hati, dan keikhlasan.

5. Kita syukuri kenikmatan ini, dan kita nikmati kesyukuran ini. Jangan sampe kenikmatan kita disyukuri orang lain, atau kesyukuran kita orang lain yg menikmati. Ramadhan dan Idul Fitri, itu kesyukuran dan kenikmatan kita, jangan sampe malah orang2 nasrani, yahudi, kapitalis, komunis, dll yg menikmati.

6. Memberi sedekah saat2 sulit itu bagus, mulia. Memberi sedekah saat lapang itu biasa. Ingat hadis Rasul: “juhdul muqill”, kerja kerasnya orang yg serba terbatas; maka keterbatasan diri tdk boleh membuat orang tdk berbuat kebaikan.

7. Maka, jangan sampe jadi manusia yg tdk pny prestasi. Berprestasilah, dan harus pny keunggulan. Berprestasilah dlm kebaikan, kemakrufan dan kebenaran.

8. Di pondok ini semangatnya adalah kebersamaan utk memberi, bukan kebersamaan utk bagi-bagi. Ingat, dlm berjuang dan berjihad jgn berpikir dapat apa, berapa, itu sampah2 perjuangan.

9. Di pondok ini kita tanamkan bom, yaitu BOM SPIRITUAL, bukan bom kimiawi. Kita didik santri2 ini menjadi bom spiritual, utk mengebom sesuatu yg tdk benar, kemungkaran dan kemunduran. Anak-anakku akan berjuang di seluruh antero DUNIA untuk meledakkan “bom-bom” spiritual. Ikhlaskanlah!!!!!!!
S.T.I.R (Sabar, Tawakal,
Ikhlas, Ridho) untuk JIHAD ini.

10. Tiap orang pny aib, tiap lembaga pny kekurangan. Boleh membaca aib orang, tapi
jangan membacakannya. Bedakan antara membaca dan membacakan. Suasana sekarang ini semrawut, krn saling membacakan aib orang lain.

11. Ulama yg mempertahankan harga diri dan meninggalkan persatuan umat, menjauhi ukhuwah Islamiyah, tdk usaha diikuti, itu ulama palsu. Umat ditinggalkan ulama itu pahit, tapi lbh pahit lg klo ulama ditinggalkan
umat.

Posted Aug 31, 14

Get ready for get beyond our dream by tawaqaltu’alAllah. Alhamdulillah.

Posted Aug 10, 14

Posted Jul 29, 14

Dreaming to enjoying sunset in nabawi mosque….

Posted Jul 29, 14

Online Users